Jumat, 29 Januari 2010

Artikel ATM (1)

0 komentar

ATM, Setelah Simjian Menemukannya
Oleh NINOK LEKSONO


KOMPAS.com - Ya, di satu sisi, sulit membayangkan hidup tanpa mesin anjungan tunai mandiri (automated teller machine/ATM). Seperti dikenang kembali oleh kontributor eHow.com, Tom O’Connell, dulu—sebelum ATM digunakan luas—nasabah bank harus antre untuk menarik uang belanja. Ada permen yang bisa diambil setelah transaksi usai, ya, hitung-hitung sekadar kompensasi kecil setelah lama menunggu. Kini, mesin ATM telah membuat nasabah bisa melakukan transaksi perbankan—menarik tunai, mengirim dana—dengan praktis dari berbagai penjuru dunia. Namun, seiring dengan kemudahan yang diperoleh, ATM juga dihadapkan pada tantangan baru. Ini, misalnya saja, bisa dianalogikan dengan pemanfaatan komputer. Di balik kemudahan yang diberikan, penggunaan komputer juga dari waktu ke waktu dihadapkan pada ancaman virus.

Sekilas riwayat
Sebagaimana pada penemuan teknologi lain, penemuan ATM juga didasarkan pada karya sejumlah penemu. Di sini kita harus menyebut sedikitnya tiga nama, yakni Luther Simjian, John Shepherd-Barron, dan Don Wetzel. Seperti ditulis Mary Bellis di About.com, pada tahun 1939 Simjian mematenkan satu prototipe awal ATM yang kemudian terbukti kurang sukses. Ada juga yang berpendapat, orang Skotlandia bernama James Goodfellow adalah pemegang paten paling awal (1966) ATM modern dan John D White (dari Docutel) di Amerika Serikat juga sering disebut sebagai penemu desain ATM tegak mandiri (free standing) pertama. Tahun 1967, John Shepherd-Barron menemukan dan memasang sebuah ATM di satu Bank Barclays di London. Setahun kemudian (1968), Don Wetzel menemukan ATM buatan Amerika. ATM baru menjadi bagian penting perbankan mulai dekade 1980-an.

Mesin ”lubang di tembok”

Dari kilasan riwayat di atas, orang mengakui Simjian adalah sosok yang mendapat ide untuk menciptakan apa yang disebut sebagai ”mesin lubang di tembok” yang memungkinkan nasabah melakukan transaksi finansial. Pada tahun 1939, Simjian mengajukan 20 paten terkait dengan penemuan ATM dan melakukan uji coba lapangan terhadap mesin temuannya di bank yang kini dikenal sebagai Citicorp. Hanya saja, setelah enam bulan, bank tempat uji coba melaporkan bahwa yang tertarik pada mesin itu sedikit saja sehingga penggunaannya pun dihentikan. Riwayat hidup Luther Simjian (1905-1997) juga tak kalah menarik. Penemu kelahiran Turki, 28 Januari 1905, ini belajar ilmu kedokteran, tetapi yang jadi minat sepanjang hidupnya adalah fotografi. Tahun 1934, Simjian pindah ke New York.
Kini, Simjian dikenal sebagai penemu Bankmatic ATM meski penemuan besar pertamanya yang bernilai komersial adalah terkait dengan kamera.

ATM modern
Dari riwayat di atas kita tahu bahwa lebih dari seperempat abad setelah kegagalan mesin Simjian, muncul mesin yang dipelopori oleh John Shepherd-Barron yang kemudian dianugerahi bintang Order of the British Empire tahun 2005. Mesin ini menerima voucher sekali pakai dan mengeluarkan amplop yang berisi uang 10 pound.
Adapun nomor pengenal diri (personal identification number/PIN) yang kita kenal sekarang ini mulai muncul pada karya James Goodfellow. PIN dimaksudkan untuk membatasi akses ke akun nasabah. Sebelum tiba pada PIN, Goodfellow sempat menjajaki metode identifikasi lain, termasuk sidik jari, pengenalan suara, dan pola retina (Melihat riwayat ini, PIN menjadi pilihan. Namun, kini PIN justru dilihat sebagai salah satu titik rawan).
Lalu apa sumbangan Donald Wetzel? Ahli dari Docutel Corp yang berbasis di Texas ini mengembangkan ATM berjaringan pertama, yang dikenal sebagai Docuteller, tahun 1968. Tahun 1969, Chemical Bank of New York mulai menggunakan teknologi ini, yang lalu dipatenkan pada tahun 1973.
Apabila tahun 2006 sudah 1,5 juta mesin ATM digunakan di seluruh dunia, kini—dengan industri perbankan yang makin meluas—dipastikan jumlah ATM sudah meningkat pesat. Hanya saja, meluasnya penggunaan ATM disertai pula dengan berkembangnya kejahatan. Pembajakan identitas nasabah yang dikenal dengan skimming, oleh pakar pencurian identitas, Robert Siciliano, dalam artikelnya (9/9/2009, Goodreads Inc) menjadi salah satu kejahatan dalam industri keuangan yang berkembang paling cepat. Laporan Asosiasi Industri ATM melaporkan, di seluruh dunia setiap tahunnya ada kehilangan senilai 1 miliar dollar AS dari penyalahgunaan kartu kredit dan kejahatan elektronik terkait dengan ATM.
Skimming dapat terjadi melalui sejumlah cara. Yang paling umum adalah ketika penjaga toko mengambil kartu pelanggan dan menggeseknya dengan alat yang mengopi informasi dari lajur magnetik kartu. Pencuri juga bisa mengopi data pada kartu kosong atau kartu ”putih”. Di ATM tanpa penjagaan, alat pencuri identitas ini bisa terpasang tanpa disadari oleh nasabah bank. Selain alat yang disebut skimmer ini, ada pula kamera tersembunyi.

Dialektika teknologi
Pada era yang diliputi pelbagai tantangan ini, pihak bank tentu saja wajib meningkatkan pengamanan ATM. Namun, di pihak nasabah, peningkatan kewaspadaan pun harus menjadi sikap baru. Di ATM, nasabah harus mengamati apakah ada alat skimming yang biasanya menonjol (lebih besar sedikit) dari selot normal. Manakala melihat ada hal yang mencurigakan, nasabah sebaiknya mengurungkan penggunaan ATM dan melapor kepada otoritas terkait. Sambil menunggu lahirnya kartu baru berteknologi cip yang lebih aman, yang sering disebut sebagai smart card, pengguna ATM kini dihadapkan pada tantangan baru. Tantangan ini muncul karena rupanya alat skimming dewasa ini dijual secara leluasa.
Inilah risiko pemanfaatan teknologi. Apakah dengan itu lalu orang harus kembali ke transaksi di era pra-ATM? Jawabnya tentu ”tidak”. Namun, sikap baru—saksama dan rajin membaca literatur untuk memahami cara pengamanan—harus menyertai pemanfaatan teknologi modern.

Jumat, 15 Januari 2010

Century Gate

0 komentar

Debates have been heightening since the first time Century Gate emerges to surface. The pros and cons of the issue circle around two main questions. First, is the bank worth saving and secondly, who was responsible for the unnecessary bailout: BI or Finance Minister (then the Chief of the Committee on Financial System Stability or KSSK)?
Special Committee has been established by the Indonesian House of Representatives to address the Century Gate. And from then on, it has conducted its duties by inviting people whom are considered playing important roles in the bailout decision. BI was involved in the initial process by promulgating that Bank Century (BC) was on the brink of collapse due to the impact of global crises that destroyed US, Japan, and several European countries steady financial institutions. The root of this crisis was the emergence of housing market bubble because of the issues of subprime mortgages to borrowers with a high risk of default. This mortgage meltdown made big financial institutions such as Lehman Brothers, Fanny Mae was falling into bankruptcy.
Indonesia is no exception. It has long become an open player for global financial market. Experts had analyzed Indonesia was also about to experiencing this crises. However, I am all for what former Vice President Jusuf Kalla steadfastly said during his investigation session with the Century Gate SC,”…the impact was not so substantial. Rupiah exchange rate was indeed depreciated, but it was only 20%. Comparing to what had happened during 1998 financial crisis when rupiah depreciated for almost 600%!! The depreciation and the decrease in stock prices composite index in 2008 was mainly triggered by foreign investors need for US dollars. Their headquarters were in bad need for dollars.”
The impact had caused panic in the regulators mind. As witnessed by Vice President Boediono..”the situation that day was so daunting. We have no options but to save all banks, including small sized one like Century. If we didn’t do that, our economy would face a contagion destroying effect from this whatsocalled systemic risk.” The Finance Minister also said..”the President direction for preventing the global financial crises was also obvious. We should help all troubled banks at all cost.”
The magnitude of the crises, however, was not so threatening. As JK said,..”if it was a financial hurricane, from 1000 houses, 500 would be destroyed. What had happened was from 1000 houses, only 1 house broke down. That was absolutely caused by the inside robbery, not because of the crises. Instead of bailing it out, I command the arrest of the owner. After that we would investigate.”
Yes, JK is correct. BC was robbed by its owner. This is pre cause. The post cause, the SC should find out the receivers of Rp6.7 trillion which had been infused by the government into the BC. Many suspected that part of the bailout fund was intentionally misused as the campaign fund for Democrat Party, the winning party on the 2009 general election.

My Days In Jayapura: A Journal (1)

0 komentar

The clock is still ticking. It was just like yesterday. Actually, I have been here for a year and 5 months. I have observed many weird things I’d never witnessed before. And many times, when I told the stories to my friends their laughter would burst out. That’s the joy of living places. However, one thing is more joyous when the name Jayapura comes to my mind, the view.
I’ve had a new pleasant activity lately. I like to jog uphill down. Yes, may be I’d prefer call it joghike because it is a mixture between jogging and hiking. It is really a sportive pleasant activity. While joghiking, my heart will beat faster and it makes my body healthier. But, some of you may wonder why on earth I call my exercise as a part of hiking activity anyway?
Allow me to start by telling you what Jayapura looks like. Jayapura is the capital city of Papua Province. Papua, the most eastern part of Indonesia, is divided into two provinces namely Papua Province and the West Papua Province. The capital city of the West Papua Province is Manokwari. Jayapura city is situated on a bay called Teluk Yos Sudarso (formerly called Humboldt Bay). On this bay there is a port called Jayapura Seaport. Almost every day many Pelni ships will anchor in this dock to transport passengers from Jayapura city to other cities in Papua or even outside Papua Island. At night, when we take a look at the port and around, the city will look like cities with skyscraper buildings. My house is about 200 m uphill, so I can see the city view almost clearly. I recalled at New Year’s night, from around the city area, many people celebrated New Year by exploding fireworks to the city sky. It was a so amazing and unforgettable moment. The dark sky suddenly became highlighted just like in the noon day.
Back to the brief history of Jayapura City. From 1910 to 1962 it was known as Hollandia and on May 1, 1963 the UN renamed it Kota Baru. It remained until 1968. From then on until present time it was named Jayapura which is derived from Sanskrit words “Jaya” means victory and “Pura” means city.
That is it for a short history of Jayapura. My days remain a long day. Although it is a bit too late, wise guys say better late than never. I will start with my exercise so-called joghiking..